Powered By Blogger

Rabu, 24 Februari 2010

Bengawan Solo Purba


Bengawan Solo Purba

Menurut para ahli bahwa dahulu pada zaman Tersier sekitar kala Meiosen, lempeng Australia menunjam ke bawah lempeng Eurasia karena massa jenis lempeng Australia lebih berat daripada lempeng Eurasia, sehingga membentuk zona subduksi atau zona penunjaman. Akibatnya, lempeng Eurasia yang massa jenisnya lebih ringan menjadi terangkat ke permukaan. Dasar perairan laut dangkal yang mengandung koral dan terumbu karang menjadi timbul ke permukaan. Bentuklahan tersebut meninggalkan berkas aktivitas tektonime berupa Perbukitan Kars Gunung Sewu yang membentang dari Kabupaten Gunung Kidul, Kabupaten Wonogiri, sampai Kabupaten Pacitan. Salah satu bentuklahan di Perbukitan Karts Gunung Sewu adalah Bengawan Solo Purba. Bengawan Solo Purba adalah alur sungai sepanjang 30 km yang berupa lembah Giritontro yang sangat terjal berkelok-kelok memanjang dari Gunung Payung di sebelah barat Giriwoyo ke arah selatan berakhir di Teluk Pantai Sadeng Gunungkidul. Pengangkatan Pegunungan Selatan di Kala Plestosen Tengah sampai Meosen tidak diimbangi oleh proses penggerusan aliran Bengawan Solo sehingga mengakibatkan aliran Bengawan Solo terbendung dan membentuk sebuah Cekungan Baturetno yang terletak di daerah Baturetno sampai Eramoko. Aliran Bengawan Solo menemukan jalan keluar daerah yang lebih rendah kearah utara menuju Laut Jawa melewati jalur lipatan Pegunungan Kendeng dan Pegunungan Rembang. Proses tektonik berupa pengangkatan di Jawa bagian utara sehingga membentuk jalur lipatan tersebut diimbangi oleh daya gerus Bengawan Solo yang berlangsung sampai sekarang. Proses antesenden atau pembalikan arah aliran Sungai Bengawan Solo meninggalkan jejak berupa teras-teras sungai dan lembah yang curam yang memotong batuan tersier di Pegunungan Kendeng dan Pegunungan Rembang. Aliran Bengawan Solo sepanjang 540 km melewati 20 kabupaten diantaranya Surakarta, Wonogiri, Klaten, Sukoharjo, Karanganyar, Boyolali, Sragen, Blora, Rembang, Ngawi, Magetan, Ponorogo, Madiun, Pacitan, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Gresik dan Surabaya.

Bengawan Solo Purba yang mengalir ke selatan memotong jalur Pegunungan Seribu melewati suatu lembah yang dikenal dengan nama lembah Giritontro. Lembah Giritontro merupakan lembah bekas alur sungai besar, berdinding curam menyerupai huruf U dengan beda tinngi dasar lembah sampai puncak perbukitan sekitar 150-250 meter. Lembah Giritontro membentuk undak-undak sungai pada kedua dinding lembahnya. Undak pertama dengan ketinggian 20 meter dari dasarr lembah yang terdiri dari material tanah terarosa yang berwarna merah kecoklatan dengan material batu gamping berukuran 2-5 cm, rijang, dan fragmen batu beku. Material tersebut merupakan hasil rombakan dari perbukitan karst di sebelah samping kiri dan kanan lembah. Undak kedua dengan ketinggian 8 meter dari dasar lembah dengan material penyusun perselingan batulempung berwarna coklat kehitaman dengan batupasir konglomerat dengan komposisi terdiri atas mineral kuarsa, feldspar dan mineral mafik yang berasal dari batuan vulkanik. Material sedimentasi berupa alluvium membentuk batulempung, sedangkan material sedimentasi berupa batupasir konglomerat merupakan batuan vulkanik Tersier yang tidak tertutup oleh batu gamping pada Formasi Wonosari. Ujung bagian utara Lembah Giritontro yang letaknya di sebelah timur dari Gunung Payung yang berada di atas lembah Bengawan Solo sekarang yang bermata air dari Gunung Rohtawu dan Pegunungan Tumpakkayan. Perbedaan ketinggian dari Lembah Giritontro dengan lembah Bengawan Solo sekarang sekitar 150 meter. Perbedaan tersebut disebabkan oleh struktur sesar Pucunglangan yang memanjang dari Gunung Batok di daerah Pacitan dengan Gunung Kukusan di daerah Wonogiri. Struktur sesar Pucunglangan mengakibatkan terbentuknya Cekungan Baturetno dan lembah mengantung yang dibatasi oleh tebing yang curam di sebelah timur Desa Sumur dan di daerah Giri Belah. Lembah tersebut merupakan bagian dari alur Lembah Giritontro yang terpotong oleh tebing yang curam di sisi tenggara Cekungan Baturetno.

Cekungan Baturetno merupakan genangan Sungai Bengawan Solo yang tidak dapat mengalir ke arah selatan melewati Lembah Giritontro karena daya gerus sungai tidak dapat mengimbangi dengan pengangkatan Pegunungan Seribu. Cekungan Baturetno memiliki topografi berupa dataran bergelombang dengan ketinggian antara 150-175 meter dpal. Cekungan Baturetno melebar ke arah utara sampai Waduk Gajah Mungkur. Cekungan Baturetno dikelilingi topografi perbukitan di sebelah sisi barat dan timur yang dibatasi oleh gawir-gawir bertingkat dan terjal dari arah timur laut sampai barat daya. Batuan dasar Cekungan Baturetno terdiri dari persilangan antara batugamping fragmental dengan kalkarenit dan kalsilutit. Ketidakselarasan formasi Wonosari menyebabkan terendapkan diatasnya batu lempung hitam dengan batupasir konglomerat. Batu lempung hitam terendapkan di bagian tengah dari Cekungan Baturetno, sedangkan batupasir konglomerat diendapkan di mulut alur lembah dari sungai-sungai yang berasal dari bukit-bukit di sekeliling Cekungan Baturetno membentuk endapan kipas alluvial.

Jonathan Reza Pahlawan (08/272852/GE/6546)

Ekspeditor Geomorfologi

Selasa, 23 Februari 2010

Membangun Harapan


Membagun Harapan

Di Pertigaan tahun 2008 adalah ajang pembuktikan perang dalam meraih kesuksesan yang telah aku rancang dalam tiga tahun terakhir. Aku sudah melalui berbagai kiat diantaranya belajar rutin sampai larut malam, ikut bimbingan belajar SCC Intersolusi, mengikuti tryout dari SCCI, Kagama, Widyakelana, FMIPA UGM, ISTA, GO, NEUTRON, dan berbagai bimbingan belajar lainya. Kegiatan tersebut telah aku jalani, dan hasilnya aku diterima di Fakultas Geografi UGM sewaktu tryout di ISTA dan FMIPA UGM.

Aku menyadari sudah belajar dan berlatih, tetapi greget, kepercayaan, percaya diri, keefektifan dan keefisien waktu tidak terjaga dengan baik. Pengalamanan ini terbukti pada ujian semester 5, aku menempatkan peringkat nomor 33 dari 36 siswa. Hasil ini adalah prestasi terjelek di sepanjang perjalanan pendidikanku. Di semester 5, aku kehilangan daya dobrak dan optimisme untuk mengalahkan rival di kelas 12 IPA 4. Hal itu terbukti pada hasil dua kali ulangan Matematika mendapatkan nilai 3 berturut-turut. Tidak hanya itu, semester 5 merupakan hasil terjelek karena aku tidak memanfaatkan waktu dengan baik. Sewaktu besok menghadapi ujian semester, aku menonton sinetron remaja di SCTV. Itulah pengalaman yang harus menjadi bahan refleksi untuk diriku.

Kini dua minggu lagi, aku akan menghadapi Ujian Masuk Universitas Gadjah Mada. Usaha yang aku pegang hanya mengikuti tryout di berbagai bimbel dan lembaga pendidikan, tetapi dalam hatiku persiapan tersebut belum maksimal. Masih sulit untuk menggempur Teknik Industri, Planologi, dan Kartografi Penginderaan Jarak Jauh. Aku membutuhkan kiat-kiat sebelum bertanding. Aku berharap waktu dua minggu ini adalah waktu efektif untuk mendalami motif soal dan strategi perang untuk menaklukkan UM UGM. Membangun harapan dari percaya diri, siap mental, manajemen waktu, dan pengetahuan mengenai siasat menghadapi UM UGM. Aku berharap dapat menghadapi UM UGM dengan lancar dan hasilnya aku dapat diterima masuk UGM di satu di antara ketiga pilihan tersebut. Segala pengalaman kegagalan adalah refleksi berharga bagiku untuk meraih kesuksesan yan telah aku rancang selama tiga tahun di SMA Negeri 6 Yogyakarta. Hanya ada kata sukses dan hanya ada langkah giat untuk menghadapi UM UGM, itulah pedomanku.

Start something with Scratf 30 Maret 2008

Sampah Masyarakat


Sampah Masyarakat.

Hurok-hurok, itulah ocehan pengangguran di sekitar tempat tinggalku. Dapat dibilang sampah masyarakat, atau tunakarya untuk menghaluskan makna. Tua, muda yang tidak mempunyai pekerjaan yang tetap adalah penyebab maraknya perjudian di sekitar tempat tinggalku. Aku merasa prihatin terhadap masalah tersebut. Sewaktu kecil, mereka kurang mendapat perhatian dari orang tua mereka. Lalu, mereka melampiaskan tingkah lalu dalam suatu kerumunan yang tidak terkendali. Mereka adalah Ndaru, Koteng, Keprek, Sutri, Bagong, Nanap, Konyil, Genjik, Ndolom, Antok, Kodok, Kampret, dan Diko. Mereka ada yang masih bujang dan sudah berkeluarga, tetapi tidak dapat mengurus keluarga dengan baik, dan tak dapat mencukupi kebutuhan keluarga dengan sepantasnya. Yang masih bujang tidak memikirkan harapan, keinginan, dan cita-cita untuk masa depan (ora duwe ngen-ngen). Sungguh tragis hidup segan, mati tak mau. Mereka tidak mau mendalami hidup lebih dalam. Padahal kunci hidup adalah “Kita harus menabur benih di ladang, merawat dan memelihara tanaman itu, dan di suatu saat kita menuai hasil panen dari tanaman tersebut”. Itulah rahasia hidup sesungguhnya yang harus menjadi peganggan orang hidup karena hidup adalah sebuah perjuangan.

Setiap hari, segala kegiatan dijadikan permainan judi yang kecil-kecilan. Main pingpong, main kelereng, hingga lomba lari harus dinilai dengan perjudian. Sunggung bobrok mental mereka. Apa kata dunia melihat generasi muda bangsa yang bermental bejat. Negeri yang kaya raya, tetapi rakyatnya seperti monyet. Lebih baik monyet, karena monyet masih dapat memikirkan sesuatu yang mereka makan hari esok serta memberi makan anaknya, tetapi manusia itu hanya memikirkan sekarang tanpa menghiraukan keluarga. Sikap hedodisme, materalisme dan nafsu telah mendarahdaging di dalam kehidupan mereka. Lonte dan itil adalah pemuas hawa nafsu yang sesaat. Gaple, Qyu-Qyu, sanggong, remi, cliwik, dan totohan adalah pekerjaan yang tak dapat ditinggalkan. Topi miring, lapen, dan vocka adalah minuman setiap minggu sekali. Sungguh tragis masa depan mereka. Dari pagi hingga sore hari, mereka duduk-duduk santai diatas benteng, dengan menyebulkan asap rokok seperti mobil tua yang mogok dan macet, yang tak pernah diganti oli dan diservis. Tawa, ke sana ke sini adlah suatu aktivitas yang tak terlupakan. Baju compang-camping, jarang dicuci dan jarang diseterika adalah baju daerah yang merupakan simbol dari kekompakan. Semoga aku menjadi pemerkasa permasalahan sosial dalam kehidupan sampah masyarakat. (Jonathan Reza. P)

Petani di Pinggiran Desa


Petani di Pinggiran Desa

Mungkin di zaman modern ini, kita jarang menemukan seorang pemuda yang berprofesi sebagai petani. Sebagian besar di antara mereka memilih sebagai pekerja pabrik, pelayan took, dan berprofesi sebagai tukang. Terdengar kata “Tidak” dari seorang pemuda yang berumur 30 tahun yang tinggal di pinggiran desaku bernama Maryanta. Jiwa dan semangat Marhenisme sejak di jaman Soekarno terus bergelora di hatinya untuk bangkit dan semangat dalam menjalanani hidup. Mungkin pekerjaan sebagai petani telah ditinggalkan oleh pemuda generasi kita, tetapi tidak untuk Saudara Maryanta. Dia tetap memilih berprofesi sebagai petani yang kreatif dalam mengelola hasil tanaman padi, palawija, dan sayuran Aku sangat menghargai perjuangannya dalam menghidupi anak dan istri. Aku sangat tertarik terhadap perjungannya. Aku ingin mengenalnya lebih dekat. Aku juga ingin mengulangi sejarah Bung Karno bertemu dengan seorang petani yang bernama Marhain. Sekarang sejarah itu akan terulang kembali, Soekarno kecil yang bernama Jonathan RP bertemu dengan seorang petani di pinggiran desa yang bernama Maryanta. Beginilah ceritanya……..

Sebelum matahari terbenam di barat, kira-kira pukul empat sore, aku mempunyai niat untuk berbagi waktu dengan alam di hambaran sawah sebelah selatan desaku yang bernama “Mbulak”. Sore itu, aku mengendarai sepeda polygon menuju mbulak. Aku berhenti di sana di tepat yang bernama ngebak. Ngebak adalah suatu sumber mata air yang dibangun oleh pemerintahan kolonial belanda ntuk mandi para prajurit sewaktu perang. Bangunan tersebut berukuran 3x7 meter yang terbuat dari semen merah dan hampir rapuh oleh terpaan hujan dan panas. Aku melihat situasi di sekitar ngebak. Terdapat Pak Tani yang memakai baju merah keruh sedang membajak sawah dengan traktor. Idam, Aldi, dan Dandi sedang mencari orong-orong dan belut di tanah bajakan. Tak terasa lama mereka berkumpul berbagai canda dan tawa di sebuah pinggiran sungai yang bernama tempuran. Di samping itu, Pak Giyo dan Pak Joko melepas lelah setelah bekeradi sawah. Aku mendekati mereka satu per satu untuk berbagai pengalaman dan mendengarkan keluh kesah mereka. Tak ketinggalan aku memotret mereka dan bersendau gurau bersama mereka. Setelah itu, aku menemui anak-anak yang sedang bermain bersama burung bangau yang diikat kakinya di sebuah pohon. Burung itu mempunyai paruh yang lancip dan panjang dan kaki yang beruas dan panjang. Burung bangau tersebut mencoba menarik perhatian kami dengan menari-mari di lahan lumpur yang becek. Petani yang melakukan bajak tersebut menawarkan uang senilai dua puluh ribu untuk menghargai burung bangau yang nakal dan lucu. Pak Tani tersebut mengatakan bahwa uang tersebut akan digunakan untuk membeli tiga bungkus rokok. Aku pun melanjutkan perjalanan untuk pulang ke rumah.

Di perjalananku pulang ke rumah, terdengar suara yang memanggil namaku. Aku pernah mendengar suara tersebut sebelumnya. Ternyata Mas Maryanta adalah seorang marhanisme di pinggiran desaku yang memanggilku. Aku pun mendekatinya dan berbicara dengan dia. Kami membicarakan terntang filsafat, makna hidup, dan cerita tentang petani yang bernama marhein. Aku salut terhadap dia karena dia adlah orang yang mempunyai tipe pekerja keras dan patang menyerang. Semangat itulah yang memberi inspirasi kepada aku untuk menuliskan sebuah goresan pena mengenai petani di pinggir desa. Aku berbicara dengan dia yang sedang mengarit rumput-rumput ilalang. Rumput ilalang itu digunakan untuk memberi makan kepada tabungan hidup para petani yaitu sapi. Dia mengatakan bahwa sebagai seorang petani harus menabung untuk di kemudian hari. Satu jam waktu kami berbincang-bincang dengan menghasilkan seribu goresan pena di kertas ini. Aku menceritakan kepada dia tentang Marhain bahwa Soekarno terinspirasi oleh Marhain tentang perjungan seorang petani dalam menjalani hidup, walaupun dalam keaadaan hujan, Maehain tetap bekerja keras di sawah. Hal ini sekarang terjadi di hadapanku bahwa seorang petani di pinggir desaku bernama Maryanta sedang mengarit rumput ilalang untuk memberi makan sapi yang merupakan tabungan hidup di kemudian hari. Dia juga menceritakan kepadaku tetang sebuah filsafat hidup. Beginilah ceritanya...Di halaman Ibu Camara Dini ditanam dua pohon yang merupakan simbol filsafat hidup dari leluhur yaitu sebuah pohon jati dan sebuah pohon sawo kecik. Pohon jati yang menjulang tinggi, rimbum, dan kokoh, didampingi oleh sebuah pohon sawo kecik di sampingnya. Dia mengatakan bahwa kedua pohon itu memberi simbol filsafat hidup yaitu Sejatining Urip Tumindhak Ingkang Becik. Begitulah makna kepanjangan dari sebuah pohon jati dan sebuah pohon sawo kecik yang selalu berdampingan seperti sepasang suami istri. Aku baru tahu makna kedua pohon tersebut dari tutur kata petani di pinggir desaku yang bernama Maryanta. Aku merasa kecewa karena kedua pohon itu telah di tebang untuk mempertebal dompet kepunyaan pemilik tanah. Di dalam hati aku berpikir apakah pemilik tanah tidak mengetahui makna dari kedua pohon itu ? Sungguh ironis demi kepentingan harta semata, kedua pohon itu lenyap di muka bumi ini.

Sedang gurau kami pun dilanjutkan di perjalanan pulang. Setelah rumput ilalang terkumpul sekarung, kami berjalan menyusuri tegalan sawah menuju grojogan banyu. Dia membersihkan rumput ilalang sekarung itu dengan air sungai yang mengalir. Perjalanan kami puulang, aku membawakan cangkul kepunyaanya sampai di rumahnya. Di rumah petani di pinggir desaku sudah ditunggu oleh orang tuanya yang bernama Mbah Niti Karbi. Aku juga saluut terhadap Mbah Niti Karbi karena seorang yang berumur lebih dari 75 tahun masih ikut campur tangan dalam cocok tanam. Selain itu, dia juga kuat mencari jerami untuk memberi makan kepada tabungan hidup para petani yaitu sapi. Beginilah cerita perjalananku bersama petani di pinggir desa ”Maryanta”. Engkau memberi inspirasi kepadaku. Suatu saat kita akan bertemu kembali untuk membicarakan suatu hal yang menarik. Thank You,Terima Kasih, Matur Nuwun.

Jonathan Reza Pahlawan, 16 Mei 2008